NJOP DKI Jakarta Naik, Ini Dampaknya Bagi Pasar Properti Ibukota


Sri Mulyani1 menjelaskan penerimaan perpajakan pada semester I-2018 telah mencapai Rp653,5 triliun yang terdiri atas penerimaan pajak nonmigas Rp551,5 triliun, kepabeanan dan cukai Rp72 triliun dan Pajak Penghasilan dari Migas Rp30,1 triliun.

Peningkatan aktivitas ekonomi terlihat dari membaiknya penerimaan PPh nonmigas yang telah mencapai Rp329,3 triliun, Pajak Pertambahan Nilai Rp218,1 triliun, Pajak Bumi dan Bangunan Rp0,3 triliun dan pajak lainnya Rp3,7 triliun.

"Capaian pajak nonmigas pada semester I meningkat secara signifikan, terutama kontribusi PPh Orang Pribadi dan PPh Badan yang masing-masing tumbuh 20,1 persen dan 23,3 persen," ujar Sri Mulyani.

Faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan perpajakan ini antara lain peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan harga minyak (ICP) pada Januari-Juni 2018 dengan rata-rata mencapai 66,6 dolar per barel serta membaiknya harga komoditas dunia terutama batubara.

"Secara keseluruhan, penerimaan perpajakan ini sudah mencapai 40,4 persen dari target atau lebih baik dari realisasi semester I-2017 sebesar 38,8 persen," kata Sri Mulyani.


Untuk keseluruhan pendapatan negara di akhir tahun, Sri Mulyani memproyeksikan penerimaan perpajakan dapat mencapai Rp1.548,5 triliun, penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp349,2 triliun dan hibah sebanyak Rp5,4 triliun.

Proyeksi penerimaan perpajakan ini lebih rendah Rp69,6 triliun dari target Rp1.618 triliun, penerimaan negara bukan pajak surplus Rp78,7 triliun dari target Rp275,4 triliun dan hibah surplus Rp4,2 triliun dari target Rp1,2 triliun.

"Realisasi pendapatan negara diperkirakan mencapai target APBN 2018, karena penerimaan kepabeanan dan cukai serta PNBP bisa lebih tinggi seiring dengan kenaikan harga minyak. Meski demikian, realisasi pajak diproyeksikan lebih rendah," ujarnya.


Source: https://www.wartaekonomi.co.id/read187748/ini-dia-sumber-peningkatan-penerimaan-pajak-versi-bu-sri.html